Dalam satu minggu ini, dua sahabatku akan melangsungkan pernikahannya. Kedua-duanya menikah dengan tanpa melaui prosedur yang tidak “lazim” bagi anak-anak muda di era serba gaul dan funky ini. Yang satu sebut saja inisialnya S, menikah dengan cara dijodohkan oleh “guru tulang”nya. Sedangkan yang satu lagi berinisial H, saya kurang tahu secara pasti bagaimana dia bisa mendapatkan calon pendampingnya itu, tetapi sepertinya dia juga tidak jauh berbeda dengan S nasibnya, yaitu dijodohkan.

Hebatnya kedua sahabatku ini bisa menerima perlakuan yang sungguh-sungguh tidak gaul itu, mau dinikahkan dengan prosedur penjodohan. Padahal kalau saja mereka mau mencari sendiri calon pendamping hidupnya itu juga bukan suatu hal yang mudah, apalagi H yang sering keluyuran kemana-mana. Semua itu mereka lakukan karena kewajiban untuk tunduk kepada orang tua, tanpa pengecualian. Apapun yang diinginkan oleh orang tua mereka, mereka akan melakukannya dengan lapang dada dan penuh keikhlasan, apalagi kalau disuruh menikah seperti itu, bahkan dilakukannya dengan senang hati. Seperti halnya kisah nabi Isma’il yang tidak pernah membantah kepada orang tua beliau, walupun dia akan disembelih. Sungguh sebuah pilihan sikap yang sulit untuk kita tiru. Ya… kedua sahabat saya ini memang orang-orang istimewa, dijaman yang sudah hampir menghalalkan pergaulan bebas ini, keduanya masih dengan teguh mempertahankan akhlaq mulianya itu.

Hal lain yang seharusnya membuat kita iri kepada mereka berdua, adalah bahwa mereka tidak pernah berpacaran, bahkan bertemupun sangat jarang, itupun tidak pernah mereka lakukan sendiri tetapi pasti ada keluarga yang menemani mereka. Sepertinya mereka mengerti betul bahwa dalam Islam tidak dikenal istilah berpacaran, yang ada hanya ta’aruf atau perkenalan saja, itupun didampingi oleh pihak keluarga, persis seperti apa yang diceirtakan dalam film “Ayat-ayat Cinta“, seperti yang dilakoni oleh tokoh Fahri dan Aisha.

Bagi kita mungkin akan muncul pertanyaan, apakah tidak takut salah pilih ? jangan-jangan kita menikah dengan pendamping hidup yang tidak sesuai dengan harapan kita? karena kita tidak pernah mendalami kepribadiannya secara mendalam ?

Bagi mereka berdua sepertinya hal-hal seperti itu tidak terlalu dirisaukan, karena merek sepertinya sangat yakin bahwa jodoh adalah keputusan mutlak dari Yang Maha Kuasa, dan mereka sangat percaya dengan seyakin-yakinnya bahwa Tuhan tidak akan salah memilihkan jodoh untuk mereka. Menurut mereka, berpacaran seperti halnya yang lumrah dilakukan kaum muda sebelum melangkah kejenjang pernikah adalah prilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama, karena memang tidak diperbolehkan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim untuk berlama-lama bertemu apalagi menjalin hubungan yang sangat intens seperti halnya dalam berpacaran itu, apalagi belum diikat dengan pernikahan yang sah. Pacaran bagi mereka bukanlah sesuatu yang penting, bahkan bisa merusak hubungan yang sedang dijalin, apalagi bila mereka mengetahui terlalu dalam sisi-sisi kepribadian calon pendamping hidupnya itu.

Semoga sahabat-sahabatku itu menjadi pasangan yang akan mendapatkan anugerah sakinah, mawaddah dan rahmah dari Allah SWT. Semoga sahabat-sahabtku itu menjadi pasangan yang saling mencinta dan saling mengasihi, seperti halnya Nabi Adam dan Ibunda Hawa, Nabi Ibrahim dan Ibunda Hajar, Nabi Yusuf dan Ibunda Zulaikha, dan Nabi Muhammad SAW dengan Ibunda Khadijah. Amin.

Selamat Menempuh Hidup Baru Sahabatku.

Powered by Zoundry

Incoming search terms for the article: