Raudlatul Ulum adalah sebuah lembaga pendidikan dimana saya mengabdikan diri dilembaga tersebut. Raudlatul Ulum yang nanti akan saya sebut RU saja, adalah lembaga yang sudah cukup tua usianya, karena mulai dirintis sejak sekitar tahun 1924, oleh Alm. KH. Bukhori Isma’il, salah satu tokoh agama di daerah Malang Selatan yang sangat disegani pada masanya. Naun dalam pertumbuhannya, RU juga banya didukung oleh para tokoh agama dan masyarakat sekitar, salah satunya yang kemudian menjadi penggerak utama dan ujung tombak kemajuan RU adalah Alm. KH. Yahya Syabrawi, dan dibantu oleh para ulama lain seperti Alm. KH. Semaun, Alm. KH As’ad dan tokoh2 lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu-persatu disini.
Dalam perkembangannya RU juga mengalami pasang surut, sama halnya dengan lembaga pendidikan swasta yang lain, yang kehidupannya memang tidak dijatah oleh pemerintah. Sampai saat ini RU masih tetap mempertahankan suasana pendidikan Islami yang sangat kental, diantaranya dengan memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan dengan menggunakan lokasi pembelajaran yang berbeda.
Disamping itu RU juga tetap berupa untuk mempertahankan beberapa mata pelajaran muatan lokal yang sangat khas pesantren. Karena memang RU tumbuh dan berkembang bersama pesantren disekitarnya, yang setidaknya ada 11 pesantren yang para santrinya mengenyam pendidikan formalnya di RU.
Saat ini RU telah dipegang oleh generasi keempat dari para pendiri RU, generasi keempat ini adalah generasi muda dan energik dengan semangat yang tinggi dan berpengalaman luas. Segera setelah terjadi reformasi sususan pengurus Yayasan Pendidikan Raudlatul Ulum beberapa waktu yang lalu, para anggota pengurus, termsuk saya sendiri, melakukan pertemuan-pertemuan, rapat-rapat marathon dan evaluasi disegala lini kehidupan RU.
Salah satu anggota pengurus YPRU yang banyak memberikan masukan terhadap rencana pengembangan RU kedepan adalah Dr. H.M. fauzan Zenrif, M.Ag., yang juga menjadi salah satu staff pengajar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, disamping beberapa aggot apengurus yang lain yang juga tidak kalah semangatnya untuk membawa perubahan RU kedepan.
Dalam saah satu rapat yang membahas tentang konsep keuangan dilingkungan RU, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaaan dari salah seorang anggota pengurus ; “Dari mana asal uasal konsep keuangan ini ?“. Dan saya mendapati sebuah jawaban yang cukup membuat darah ini berdesir, sebuah jawabn yang singkat dari pembuat konsep keungan; “Konsep ini adalah standart ISO yang sudah diadaptasikan dengan kondisi RU…“.
Gila… ternyata RU mau disetting sebagai lembaga pendidikan berstandart internasional, walaupun mungkin pada awalnya hanya bidang keuangan saja yang akan digarap sesuai dengan standart ISO, tetapi bisa jadi dalam perkembangan berikutnya, bidang-bidang yang lainpun akan distandarisasi dengan ISO juga.
Saya jadi susah membayangkan, bagaimana kondisi Ru beberapa tahun kedepan. Sebuah lembaga pendidikan yang lokasinya jauh dari perkotaan, dikelilingi banyak pesantren, memperthankan nilai-nilai keIslaman dengan teguh, dan berstandart ISO. Semoga ini bukan hanya mimpi disiang bolong, yang akan menghilang sesaat setelah kita terbangun. Semoga apa yang dierncanakan ini segera menjadi kenyataan dan terwujud dengan tanpa adanya aral dan rintangan yang berarti. Amin.


Add One